Showing posts with label Riyadhus Shalihin. Show all posts
Showing posts with label Riyadhus Shalihin. Show all posts

Jangan Berdusta

 


Allah Ta'ala berfirman:

yang bermaksud:
"Dan janganlah engkau turut apa yang tidak engkau mengerti."   (al-Isra': 36)


Allah Ta'ala juga berfirman:
"Tidaklah seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, melainkan di sisinya ada malaikat Raqib - pencatat kebaikan - dan 'Atid - pencatat keburukan."       (Qaf: 18)


Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya kata benar itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada syurga dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata benar, sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berkata benar.
Dan sesungguhnya kata dusta itu menunjukkan kepada kecurangan dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dusta sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berkata dusta."       (Muttafaq 'alaih)


Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi SAW bersabda:
"Empat macam perkara, barangsiapa dalam dirinya terdapat semua perkara itu, maka ia adalah seorang munafik murni dan barangsiapa yang dalam dirinya terdapat salah satu daripada empat perkara tadi, maka ia telah memiliki satu macam sifat dari kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat itu, yaitu: apabila ia dipercaya -berkhianat, apabila berkata -berdusta, apabila berjanji -menyalahi janjinya dan apabila bertengkar -jahat kelakuannya."        (Muttafaq 'alaih)


Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Nabi SAW bersabda: "Sesangat-sangatnya dusta yang diperbuat ialah apabila seseorang itu mengaku bahawa kedua matanya melihat sesuatu - dalam impian - yang sebenarnya tidak dilihat - atau diimpikan."       (Riwayat Bukhari)

Jangan Mengadu Domba

 


Allah Ta'ala berfirman:

"Jangan pula engkau mematuhi - orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba."   (al-Qalam: 11)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Tiada seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, melainkan di sisinya ada malaikat Raqib - pencatat kebaikan - dan 'Atid pencatat keburukan."   (Qaf: 18)

Dari Hudzaifah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: "Tidak dapat masuk syurga seseorang yang gemar mengadu domba."   (Muttafaq'alaih)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w berjalan melalui dua kubur, lalu bersabda:  "Sesungguhnya dua orang mati ini disiksa, tetapi tidaklah mereka disiksa kerana kesalahan besar. Ya, tetapi sebenarnya besar juga.  Adapun yang seorang di antara keduanya itu dahulunya - ketika di dunia - suka berjalan dengan melakukan adu domba, sedang yang lainnya maka ia tidak suka menghabiskan samasekali dari kencingnya - yakni di waktu kencing kurang memperdulikan kebersihan serta kesucian dari najis."   (Muttafaq 'alaih)  Ini adalah lafaz dari salah satu riwayat Imam Bukhari.

Dari Ibnu Mas'ud r.a bahawasanya Nabi s.a.w bersabda:  "Tahukah engkau semua, apakah kedustaan besar itu?  Yaitu Namimah atau banyak bicara adu domba antara para manusia."   (Riwayat Muslim)

Jangan Mendengar Umpatan

 


Allah Ta'ala berfirman:

"Jikalau mereka - yakni orang-orang mu'min - mendengar kata-kata yang tidak berguna, maka mereka berpaling daripadanya..."   (al-Qasas: 55)


Allah Ta'ala juga berfirman:
"Orang-orang mu'min ialah orang-orang yang berpaling dari kata-kata yang tidak berguna."   (al-Mu'minun: 3)


Allah Ta'ala berfirman pula:
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan diberi pertanyaan - tentang apa-apa yang dilakukan masing-masing.        
(al-Isra': 36)


Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan apabila engkau melihat orang-orang yang memperolok-olokkan keterangan-keterangan Kami, hendaklah engkau menghindarkan diri dari mereka itu, sehingga mereka membicarakan perkara yang lain.  Dan jikalau engkau terlupa kerana godaan syaitan, janganlah engkau terus duduk sesudah teringat itu bersama-sama dengan orang-orang yang menganiaya.  (al-An'am:68)


Dari Abuddarda' r.a. dari Nabi s.a.w sabdanya:
"Barangsiapa yang menolak dari keperwiraan saudaranya - seperti mencegah orang yang hendak mengumpat saudaranya itu di hadapannya. maka Allah menolak diri orang itu dari neraka pada hari kiamat." - Saudara yang dimaksudkan ialah orang yang sesama Muslim atau mu'min.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Jangan Mengumpat

 


Allah Ta'ala berfirman:

"Janganlah sebahagian di antara engkau semua itu mengumpat sebahagian yang lainnya.  Sukakah seseorang di antara engkau semua makan daging saudaranya dalam keaadaan ia sudah mati, maka tentu engkau semua membenci.  Takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Menerima taubat lagi Penyayang."   (al-Hujurat:12)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan janganlah engkau turut apa yang engkau tidak mengetahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan diberi pertanyaan - apa saja yang telah dilakukan olehnya."   (al-Isra': 36)

Allah Ta'ala juga berfirman:
"Tidaklah seseorang itu mengucapkan sesuatu ucapan, melainkan di sisinya ada malaikat Raqib - pencatat kebaikan - dan 'Atid - pencatat keburukan."     (Qaf: 18)

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w sabdanya:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau - kalau tidak dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja."   (Muttafaq'alaih)

Dari Abu Musa r.a., katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, manakah kaum Muslimin itu yang lebih utama?"  Beliau s.a.w menjawab: "Yaitu yang orang-orang Islam lain merasa selamat daripada gangguan lisannya - yakni perbicaraannya - serta dari tangannya."   (Muttafaq'alaih)

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya:  "Rasulullah s.a.w bersabda:  Janganlah engkau semua memperbanyak kata, selain untuk berzikir kepada Allah Ta'ala sebab sesungguhnya banyaknya perbicaraan, kerasnya hati dan sesungguhnya sejauh-jauh manusia dari Allah ialah yang berhati keras." - yakni enggan menerima petunjuk baik.    
(Riwayat Termidzi)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya:  Rasulullah s.a.w bersabda:  "Barangsiapa yang dijaga oleh Allah akan keburukannya yang ada di antara kedua rahangnya - yakni mulut - dan keburukannya apa yang ada di antara kedua kakinya - yakni kemaluan, maka dapatlah ia masuk syurga."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dari Abu Hurairah r.a bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:  "Adakah engkau semua mengetahui, apakah mengumpat itu?" Para sahabat menjawab:  "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui."  Beliau s.a.w bersabda:  "Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang ada dalam diri saudaramu dengan apa-apa yang tidak disukai olehnya."  Beliau s.a.w. ditanya: "Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau dalam diri saudara saya itu memang benar-benar ada apa yang dikatakan itu?" Beliau s.a.w menjawab: "Jikalau benar - sungguh-sungguh engkau telah mengumpatnya dan jikalau tidak ada dalam dirinya apa yang engkau ucapkan itu, maka sungguh-sungguh engkau telah membuat-buat kedustaan pada dirinya."   (Riwayat Muslim)

Dari Anas r.a., katanya:  "Rasulullah s.a.w. bersabda:  :Ketika saya dimi'rajkan, saya berjalan melalui suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga yang dengan kuku-kuku tadi mereka menggaru-garukan muka serta dada-dada mereka sendiri.  Saya bertanya: "Siapakah mereka itu, hai Jibril?"  Jibril menjawab: "Itulah orang-orang yang makan daging sesama manusia - yakni mengumpat - dan menjatuhkan kehormatan mereka."   (Riwayat Abu Dawud)


Mulakan Dengan Yang Kanan

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, semalam ustaz dalam kuliah maghrib telah mengingatkan agar kita semua usahalah untuk sentiasa ikut sunnah dalam menjalani kehidupan seharian. Beramal dengan cara hidup Nabi Muhammad SAW, moga2 InshaaAllah hidup kita diredhai Allah Taala.

Istiqamah Ikut Sunnah di SINI

Kita ikut sunnah Rasulullah SAW; contoh dalam soal makan minum misalnya, hendaklah kita makan guna tangan kanan dan minum air pegang gelas dengan tangan kanan. Adab-adab makan ada tulis di SINI.

Memakai pakaian dan memakai seliper hendaklah dimulakan dengan yang kanan. Begitu juga bila melangkah masuk ke masjid langkahlah dengan kaki kanan, keluar dari tandas guna kaki kanan dsb.

Dulu ada tulis tentang itu dalam posting Doa Keluar Dari Rumah.. di SINI

Pakai jam pun kata ustaz elok lah kita pakai kat tangan kanan. Orang2 yang kidal maksudnya yang dah terbiasa menulis dengan tangan kiri, ustaz syorkan agar cuba2lah berlatih untuk mampu menulis guna tangan kanan. "Hendak seribu daya", kata ustaz. Jadi kalau kita tak hendak tentulah akan ada banyak dalihnya. Perlu banyak latihan InshaaAllah akan berjaya.

Wallahu a'lam.
~~~~~~~~~~~~~~~~

Petikan dari Kitab Riyadhus Shalihin.

Sunnahnya Mendahulukan Anggota Yang Kanan Dalam Segala Sesuatu Yang Termasuk Dalam Bab Memuliakan (Yakni Kerana Mulianya Anggota Kanan Itu) Misalnya Ketika Berwudhu', Mandi, Tayammum, Mengenakan Pakaian,  Terompah, Sepatu, Celana, Masuk Masjid, Bersiwak (Bersugi), Bercelak, Memotong Kuku, Mencukur Kumis, Mencabut Rambut Ketiak, Mencukur Kepala, Bersalam Dari Shalat, Makan, Minum, Berjabatan Tangan, Menjabat Hajar Aswad, Keluar Dari Jamban, Mengambil, Memberi Dan lain-lain Yang Semakna Dengan Itu, Juga Disunnahkan Mendahulukan Anggota Yang Kiri Dalam Hal-hal Yang Sebaliknya Di Atas Seperti Berhingus, Berludah Di Sebelah Kiri, Masuk jamban, Keluar Dari Masjid, Melepaskan Sepatu, Terompah, Celana, Pakaian Serta Bercebok Dan Mengerjakan Apa-apa  Yang Dianggap Kotor Dan  Yang Serupa Dengan Itu

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka barangsiapa yang diberi catatan amalnya - lalu diterima - dengan tangan kanannya, maka orang itu berkata:"Nah, cuba bacalah olehmu semua akan catatan amalku ini," sampai habisnya beberapa ayat.
(al-Haqqah: 19)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Adapun orang-orang golongan kanan. Apakah orang-orang golongan kanan itu? Dan orang-orang golongan kiri. Apakah orang-orang golongan kiri itu?"
(al-Waqi'ah: 8-9)

718. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu gemar sekali mendahulukan anggota kanannya dalam segala hal yang dilakukan olehnya, baik dalam bersucinya, menyisir rambutnya serta mengenakan terumpahnya."
(Muttafaq 'alaih)

719. Dari Aisyah radhiallahu 'anha juga, katanya: "Tangan Rasulullah s.a.w. yang kanan itu beliau gunakan untuk bersuci dan makan, sedang tangan beliau s.a.w. yang kiri itu untuk sesuatu yang dilakukan dalam jamban - seperti bercebok (membasuh air kecil dan air besar), mengambil batu dan menghilangkan kotoran - serta apa-apa yang merupakan kotoran - seperti berludah, beringus dan sebagainya."

Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan lain-lainnya dengan isnad shahih.

720. Dari Ummu 'Athiyyah radhiallahu 'anha bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada kaum wanita dalam memandikan puterinya yakni Zainab - atau Ummu Kultsum di waktu wafatnya - radhiallahu 'anha: "Dahulukanlah olehmu semua anggota-anggotanya yang bahagian kanan serta tempat-tempat berwudhu' daripada tubuhnya itu."
(Muttafaq 'alaih)

721. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Apabila seseorang dari engkau semua mengenakan terompah, maka hendaklah mendahulukan yang kanan dan apabila melepaskannya, maka dahulukanlah yang kiri. Hendaklah yang kanan itu yang pertama di antara kedua kaki yang dikenakan terompah dan yang terakhir ketika dilepaskan."
(Muttafaq 'alaih)

722. Dari Hafshah radhiallahu 'anha bahawasanya Rasulullah s.a.w. menggunakan anggota kanannya untuk makan, minum dan mengenakan pakaiannya serta menggunakan anggota kirinya untuk yang selain di atas itu."
(Riwayat Abu Dawud dan lain-lain)

723. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Apabila engkau semua mengenakan pakaian atau berwudhu', maka dahulukanlah anggota-anggota kananmu."

Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnad yang shahih.

~~~~~~~~~~~~~~

Doa untuk mereka yang berbuat kebaikan kepadamu

Bismillahirrahmanirrahim

Doa untuk mereka yang berbuat kebaikan kepadamu
 - جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً
Jazaakallaahu khayran.
Semoga Allah memberi balasan yang baik untukmu.
Ref:At-Tirmizi (Hadith no. 2035).
~~~~~~~~~~~~

Dari Usamah bin Zaid ra, katanya: "Rasulullah saw bersabda:

"Barangsiapa yang diberi sesuatu kebaikan - seperti pemberian dan Iain-Iain - oleh orang lain, lalu ia mengucapkan kepada orang yang melakukannya itu: "Jazakallahu khairan - Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu, maka benar-benar ia telah mempersangatkan pujiannya itu"

Diriwayatkan oleh imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

Wallahu a'lam.
Alhamdulillah dapat cenderahati dari Turki..
Jazakallahu khairan menantuku Naim



Jom dengar Tazkirah Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.


Allah Ta'ala berfirman: "Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku." (Thaha: 114)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Katakanlah: "Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui -yakni berilmu- dan orang-orang yang tidak mengetahui -yakni tidak berilmu-." (az-Zumar: 9)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari engkau semua dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat." (al-Mujadalah: 11)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hambaNya itu ialah para alim-ulama."

1373. Dari Mu'awiyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk memperoleh kebaikan, maka Allah membuat ia menjadi pandai dalam hal keagamaan." (Muttafaq 'alaih)

1374. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada kehasudan -iri- yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, yaitu: seorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan untuk menafkahkannya itu guna apa-apa yang hak -kebenaran- dan seorang yang dikaruniai ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu -antara dua orang atau dua golongan yang berselisih- serta mengajarkan ilmunya itu pula." (Muttafaq 'alaih) Artinya ialah bahwa seorang itu tidak patut dihasudi atau diiri kecuali dalam salah satu dari kedua perkara di atas itu untuk ditiru dan diamalkan seperti orang tersebut. Yang dimaksudkan dengan Alhasad ialah ghibthah yaitu mengharapkan seperti yang ada pada orang lain.

1375. Dari Abu Musa r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu adalah seperti hujan yang mengenai bumi. Di antara bumi itu ada bagian yang baik, yaitu dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan lalang -rumput- yang banyak sekali, menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air yang bertahan itu Allah lalu memberikan kemanfaatan kepada para manusia, karena mereka dapat minum daripadanya, dapat menyiram dan bercocok tanam. Ada pula hujan itu mengenai bagian bumi yang lain, yang ini hanyalah merupakan tanah rata lagi licin. Bagian bumi ini tentulah tidak dapat menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan rumput. Jadi yang sedemikian itu adalah contohnya orang pandai dalam agama Allah dan petunjuk serta ilmu yang dengannya itu saya diutus, dapat pula memberikan kemanfaatan kepada orang tadi, maka orang itupun mengetahuinya -mempelajarinya-, kemudian mengajarkannya -yang ini diumpamakan bumi yang dapat menerima air atau dapat menahan air-, dan itu pulalah contohnya orang yang tidak suka mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya diutuskan -ini contohnya untuk bumi yang rata serta licin-." (Muttafaq 'alaih)

1376. Dari Sahl bin Sa'ad r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada Ali r.a.: "Demi Allah, sesungguhnya andaikata Allah memberikan petunjuk kepada seorang lelaki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu adalah lebih baik daripada unta-unta yang merah-merah," sebagai kiasan harta benda yang paling dicintai oleh bangsa Arab saat itu. (Muttafaq 'alaih)

1377. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersaba: "Sampaikanlah -kepada orang lain- ajaran yang berasal daripadaku, sekalipun hanya seayat belaka. Percakapkanlah tentang kaum Bani Israil -yakni kaum Yahudi- dan tidak ada halangan apapun. Dan barangsiapa yang berdusta atas diriku dengan sengaja maka baiklah ia menempati tempat duduknya dari neraka." (Riwayat Bukhari)

1378. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan disitu, maka Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke syurga." (Riwayat Muslim)

1379. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk -yakni kebenaran-, maka baginya adalah pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu." (Riwayat Muslim)

1380. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila anak Adam -yakni manusia- meninggal dunia, maka putuslah amalannya -yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi-, melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang shalih yang suka mendoakan untuknya." (Riwayat Muslim)

1381. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dunia ini adalah terlaknat, terlaknat pula apa-apa yang ada di atasnya, melainkan yang berdzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim -berilmu- serta orang yang menuntut ilmu." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa itu adalah hadits hasan. Sabda Nabi s.a.w.: "Wa maa walah" artinya: Dan apa-apa yang menyamainya, ialah taat atau melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala.

1382. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia dianggap sebagai orang yang berjihad fisabilillah sehingga ia kembali." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

1383. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Tiada sekali-kali akan kenyanglah seorang mu'min itu dari kebaikan, sehingga penghabisannya nanti adalah syurga." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

1384. Dari Abu Umamah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keutamaan orang alim atas orang yang beribadah -ahli ibadah namun tidak berilmu- ialah seperti keutamaanku atas orang yang terendah diantara engkau semua." "Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, juga para penghuni langit dan bumi, sampaipun semut yang ada di dalam liangnya, bahkan sampaipun ikan yu, sesungguhnya semua itu menyampaikan kerahmatan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia." Adapun yang selain Allah ialah memohonkan -berdo'a- agar orang-orang yang mengajar kebaikan itu diberi kerahmatan oleh Allah. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

1385. Dari Abuddarda' r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari sesuatu ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan memudahkan untuknya suatu jalan untuk menuju syurga, dan sesungguhnya para malaikat itu sesungguhnya meletakkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu itu, karena ridha sekali dengan apa yang dilakukan oleh orang itu. Sesungguhnya orang alim itu dimohonkan pengampunan untuknya oleh semua penghuni di langit dan penghuni-penghuni di bumi, sampaipun ikan-ikan yu yang ada di dalam air. Keutamaan orang alim atas orang yang beribadah itu adalah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya para alim ulama adalah pewarisnya para Nabi, sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar ataupun dirham, sesungguhnya mereka itu mewariskan ilmu. Maka barangsiapa dapat mengambil ilmu itu, maka ia telah mengambil dengan bagian yang banyak sekali." (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi)

1386. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah memberikan kenikmatan kepada seorang yang mendengarkan sesuatu ucapan dari kami -yakni dari Nabi s.a.w.- lalu ia menyampaikannya sebagaimana yang didengar olehnya. Maka banyak sekali orang yang diberi berita itu lebih dapat mengingat-ingat -yakni lebih memperhatikan- daripada orang yang mendengarnya sendiri?" Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Maksudnya, seringkali orang ketiga lebih faham maksud dan makna ilmu tersebut daripada orang kedua, padahal orang ketiga mendapat ilmu tersebut melalui perantaraan orang kedua yang didapatkannya dari orang pertama (yakni Rasulullah s.a.w).

1387. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang ditanya mengenai sesuatu ilmu, lalu ia menyimpannya -yakni tidak suka menerangkan yang benar-, maka ia akan diberi kendali -di mulutnya- besok pada hari kiamat dengan kendali dari neraka." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

1388. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan dari golongan ilmu yang semestinya untuk digunakan mencari keridhaan Allah 'Azzawajalla, tetapi ia mempelajarinya itu tiada lain maksudnya, kecuali hendak memperoleh sesuatu tujuan dari keduniaan, maka orang yang sedemikian tadi tidak akan dapat menemukan keharuman syurga pada hari kiamat." Yakni bau harumnya syurga itu tidak akan dapat dirasakannya. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1389. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah mencabut ruhnya -wafatnya- para alim ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya lagi seorang alimpun -di dunia ini-, maka orang-orang banyak akan mengangkat para pemimpin -atau kepala-kepala pemerintahan- yang bodoh-bodoh. Mereka -para pemimpin dan kepala pemerintahan- itu ditanya, lalu memberikan keterangan fatwa tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan menyesatkan -orang lain-." (Muttafaq 'alaih)

Banyaknya Jalan Kebaikan

Bismillahirrahmanirrahim.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 215)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, pasti Allah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 197)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat timbangan debu, maka Ia akan mengetahuinya -di akhirat nanti memperoleh balasannya." (az-Zalzalah: 7)

Juga Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang melakukan amal shalih, maka perbuatannya itu akan menguntungkan dirinya sendiri." (al-Jatsiyah: 15)

Ayat-ayat yang berhubungan dengan bab ini amat banyak sekali. Adapun Hadis-hadis yang menguraikan bab ini juga amat banyak sekali dan tidak dapat diringkaskan keseluruhannya. Maka itu akan kami sebutkan sebagian daripada Hadis-hadis tersebut:

117. Pertama: Dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a., katanya: "Saya berkata: Ya Rasulullah, amalan manakah yang lebih utama -banyak fadhilahnya?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu beriman kepada Allah dan berjihad untuk membela agamaNya." Saya bertanya lagi: "Hamba sahaya manakah yang lebih utama -untuk dibebaskan?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu yang dipandang terindah bagi pemiliknya serta yang termahal harganya." Saya bertanya pula: "Jikalau saya tidak dapat mengerjakan itu -yakni berjihad fisabilillah ataupun memerdekakan hamba sahaya yang mahal harganya, maka apakah yang dapat saya lakukan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Berilah pertolongan kepada seorang pekerja -shani'- atau engkau mengerjakan sesuatu kepada seorang yang kurang pandai bekerja -akhraq." Saya berkata pula: "Ya Rasulullah, bukankah Tuan telah mengetahui, jikalau saya ini lemah sekali dalam sebagian pekerjaan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Tahanlah keburukanmu, jangan sampai mengenai orang banyak, amalan sedemikian itupun merupakan sedekah daripadamu untuk dirimu sendiri -yakni tidak mengganggu orang lain." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Lafaz Shani' -yang artinya pekerja- dengan menggunakan shad muhmalah, itulah yang masyhur. Tetapi ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa kalimat itu berbunyi dha-i', yakni dengan mu'jamah -dhad, maka artinya ini ialah orang yang mempunyai banyak apa-apa yang hilang, misalnya karena kefakirannya ataupun karena kekurangan keluarga-keluarganya dan lain-lain lagi. Adapun akhraq itu artinya ialah orang yang tidak dapat memperbaguskan apa-apa yang sedang diusahakan untuk mengerjakannya.

118. Kedua: Dari Abu Zar r.a. juga bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setiap ruas tulang dari seorang diantara engkau semua itu setiap paginya hendaklah memberikan sedekahnya, maka tiap satu tasbih -bacaan Subhanallah- adalah sedekah, tiap satu tahmid -bacaan Alhamdulillah- adalah sedekah, tiap satu tahlil -bacaan La ilaha illallah- adalah sedekah, tiap satu takbir -bacaan AllahuAkbar- adalah sedekah, memerintah pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah dan yang sedemikian itu dapat dicukupi - diimbangi pahalanya- oleh dua rakaat yang seorang itu bershalat dengannya di waktu dhuha -antara sedikit setelah terbitnya matahari sampai matahari di tengah-tengah atau istiwa'." (Riwayat Muslim)

119. Ketiga: Dari Abu Zar juga, katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Ditunjukkanlah padaku amalan-amalan umatku, yang baik dan yang buruk. Maka saya mengetahuinya dalam golongan amalan-amalan yang baik adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan, sedang dari golongan amalan-amalan yang buruk ialah dahak yang dilakukan di dalam masjid dan tidak ditanam." (Riwayat Muslim)

120. Keempat: Dari Abu Zar pula, bahwasanya orang-orang sama berkata: "Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya raya sama pergi dengan membawa pahala yang banyak -karena banyak pula amalannya. Mereka itu bershalat sebagaimana kita juga bershalat, mereka berpuasa sebagaimana kita juga berpuasa, tambahan lagi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan untukmu semua sesuatu yang dapat engkau semua gunakan sebagai sedekah. Sesungguhnya dalam setiap tasbih adalah merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, memerintahkan kebaikan juga sedekah, melarang kemungkaran itupun sedekah pula dan bahkan dalam bersetubuhnya seorang dari engkau semua itupun sedekah." Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah apakah seorang dari kita yang mendatangi syahwatnya itu juga memperoleh pahala?" Beliau s.a.w. bersabda: "Adakah engkau semua mengerti, bagaimana jikalau syahwat itu diletakkannya dalam sesuatu yang haram, adakah orang itu memperoleh dosa? Maka demikian itu pulalah jikalau ia meletakkan syahwatnya itu dalam hal yang dihalalkan, iapun memperoleh pahala." (Riwayat Muslim) Ad-dutsuur, dengan tsa' yang bertitik tiga buah, artinya harta benda yang melimpah ruah, mufradnya berbunyi Ditsrun.

Keterangan:
Yang menghadap Nabi s.a.w. ini adalah dari golongan kaum Muhajirin (orang-orang yang sama berpindah mengikuti Nabi s.a.w. dari Makkah ke Madinah) yang fakir-fakir. Jadi pokoknya mereka mengadu karena merasa kurang pahalanya kalau dibanding dengan orang-orang yang kaya-kaya itu, sebab merasa tidak dapat bersedekah karena miskinnya. Setashbih, yakni sekali membaca tasbih (Subhanallah). Takbir yaitu membaca Allahu Akbar. Tahmid yakni bacaan Alhamdulillah dan Tahlil yaitu La ilaha illallah. Dalam kemaluan istripun ada sedekahnya yakni bersetubuh itupun ada pahalanya seperti pahala sedekah, sebagimana menyampaikan syahwat dalam keharaman yakni melacur atau berzina akan menimbulkan dosa.

121. Kelima: Dari Abu Zar lagi, katanya: "Nabi s.a.w. bersabda kepadaku: "Janganlah engkau menghinakan sesuatu kebaikan sedikitpun, sekalipun hanya dengan jalan engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri." (Riwayat Muslim)

122. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setiap ruas tulang dari para manusia itu harus memberikan sedekah setiap harinya yang di situ terbitlah matahari. Berlaku adil antara dua orang itupun sedekah, ucapan yang baik itupun sedekah, dengan setiap langkah yang dijalaninya untuk pergi shalat juga sedekah, melemparkan apa-apa yang berbahaya dari jalan itu juga sedekah." (Muttafaq 'alaih)
Imam Muslim meriwayatkan juga dari riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bahwasanya setiap manusia dari Bani Adam itu dijadikan atas tiga ratus enam puluh ruas tulang. Maka barangsiapa yang bertakbir kepada Allah, bertahmid kepada Allah, bertahlil kepada Allah, bertasbih kepada Allah, mohon pengampunan kepada Allah, suka melemparkan batu dari jalan para manusia, ataupun duri ataupun tulang dari jalan orang banyak, atau memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran, sebanyak tiga ratus enam puluh kali banyaknya, maka sesungguhnya orang itu bersore-sore pada hari itu dan ia telah menjauhkan dirinya dari neraka."

Keterangan:
Berlaku adil yang dimaksudkan dalam hadits ini seperti waktu memberi pulusan -melerai/mendamaikan- pada dua orang yang sedang berselisih adalah sebesar-besar pahala dalam arti sedekah ini. Ingatlah firman Allah: "Tidak ada kebaikan sama sekali di dalam bisik-bisik mereka itu. Kecuali orang yang menyuruh bersedekah dan kebaikan atau yang mendamaikan antara para manusia. Dan barangsiapa yang suka melakukan sedemikian itu untuk mencari keridhaan Allah, maka padanya oleh Allah diberi pahala yang besar sekali."
Perkataan yang baik itu seperti memberi nasihat, menunjukkan orang yang tersesat jalan dan lain-lain. Menghindarkan bahaya dari jalan misalnya bahaya itu ialah batu, pecahan kaca, paku dan lain-lain agar tidak mengenai kaki orang yang melaluinya.

123. Ketujuh: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Barangsiapa yang pergi ke masjid pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan untuknya sebuah jaminan -nuzul- dalam syurga setiap ia pergi, pagi atau sore hari itu." (Muttafaq 'alaih) Nuzul, maksudnya jaminan yang berupa makanan atau rezeki dan apa saja yang dapat disediakan untuk tamu.

124. Kedelapan: Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai kaum muslimat -wanita Islam, janganlah seorang tetangga itu menghinakan tetangganya, sekalipun yang diberikan oleh tetangganya itu hanya berupa kaki kambing." (Muttafaq 'alaih)

Imam al-Jauhari berkata: Al-Firsin, artinya kaki binatang umumnya dipergunakan untuk kaki unta, sebagaimana halnya lafaz At-Hafir dipergunakan untuk menerangkan kaki ternak yang lain-lain. Tetapi adakalanya Al-Firsin itu digunakan sebagai kata isti'arah (pinjaman) untuk menerangkan kaki kambing.

Hadis diatas mengandung dua macam pengertian yaitu:
Pertama: Orang yang diberi jangan sekali-kali menghinakan tetangganya yang memberikan sesuatu kepadanya, sekalipun berupa kaki kambing. Uraian inilah yang kami cantumkan di atas dan sesuai pula dengan penafsiran yang dapat kita periksa dalam kitab Dalilul Falihin syarah Riyadhus Shalihin, yang dikarang oleh Syekh 'Alan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Makki yang wafat pada tahun 1057 Hijriyah -Rahimahullahu Ta'ala rahmatan wasi'ah- yakni dalam jilid kedua halaman 128, diterbitkan oleh "Darul Kitabil 'Arabi", Beirut Libanon.
Jadi yang diberi hendaknya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pemberinya, meskipun apa yang diberikan itu baginya tidak berarti. Sebabnya orang yang diberi itu dilarang menghinakan pemberian orang lain, sekalipun sedikit nilainya, karena pada umumnya orang yang enggan berterima kasih pada pemberian sedikit, ia enggan pula berterima kasih pada pemberian yang banyak.

Dalam sebuah hadits lain di sebutkan: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang enggan bersyukur kepada sesama manusia."

Kedua: Dapat pula diberi penafsiran bahwa orang yang memberi itu jangan sekali-kali menghinakan kecilnya pahala yang akan diperolehnya dengan jalan memberikan sedekah atau hadiah yang disampaikan kepada tetangganya, meskipun hanya berupa kaki kambing. Ini sebagai sindiran karena yang diberikan itu amat sedikitnya, kurang berharga atau tidak berarti.
Jadi memberi itu sekalipun sedikit adalah lebih baik daripada tidak memberi sama sekali. 

Dalam persoalan pahalanya, Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang melakukan kebaikan -meskipun- itu seberat debu (biji sawi atau semut kecil), maka ia akan mengetahuinya (yakni mendapatkan pahalanya)."

Penjelasan ini sesuai dengan catatan yang ditulis oleh Al-Ustadz Ridhwan Muhammad Ridhwan dalam kitab Riyadhus Shalihin yang diterbitkan oleh Darul Kitabil 'Arabi, Beirut Libanon. Kedua pendapat di atas itu sama-sama dapat dipakainya, yakni baik bagi pemberi atau yang diberi. Yang memberi jangan menghina kecilnya pahala, sebab yang disedekahkan atau dihadiahkan hanya sedikit sekali, sedang yang diberipun jangan menghina orang yang memberi, sebab sedekah atau hadiah yang disampaikan kepadanya itu hanya sedikit dan kurang berharga, yaitu kaki kambing atau lain-lain yang sifatnya tidak bernilai tinggi atau tidak mahal harganya.

125. Kesembilan: Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih -lebihnya ialah antara tiga sampai sembilan- cabangnya. Maka yang terutama sekali ialah ucapan La ilaha illallah, sedang yang terendah sekali ialah melemparkan apa-apa yang berbahaya dari jalan. Perasaan malu -berbuat keburukan- adalah salah satu cabang dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)

126. Kesepuluh: Dari Abu Hurairah r.a. lagi bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan, ia sangat merasa haus, lalu menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya terus minum. Setelah itu iapun keluarlah. Tiba-tiba ada seekor anjing mengulur-ulurkan lidahnya sambil makan tanah karena hausnya, Orang itu berkata -dalam hati: "Sesungguhnya anjing ini telah sampai pada kehausan sebagaimana yang telah sampai padaku tadi." Iapun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatu khufnya dengan air, kemudian memegang sepatu itu pada mulutnya, sehingga ia keluar dari sumur tadi, terus memberi minum pada anjing tersebut. Allah berterima kasih pada orang tadi dan memberikan pengampunan padanya." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala dengan sebab memberi -makan minum- pada golongan binatang?" Beliau s.a.w. menjawab: "Dalam setiap hati yang basah -maksudnya setiap sesuatu yang hidup yang diberi makan minum -ada pahalanya." (Muttafaq 'alaih) Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari disebutkan demikian: "Allah lalu berterima kasih pada orang tersebut, kemudian memberikan pengampunan padanya, lalu memasukkannya ke dalam syurga." Dalam riwayat lain dari Bukhari dan Muslim disebutkan pula: "Pada suatu ketika ada seekor anjing berputar-putar di sekitar sebuah sumur, hampir saja ia terbunuh oleh kehausan, tiba-tibaada seorang pezina -perempuan- dari golongan kaum pelacur Bani Israil melihatnya. Wanita itu lalu melepaskan sepatunya kemudian mengambilkan air untuk anjing tadi dan meminumkan air itu padanya, maka dengan perbuatannya itu diampunilah wanita tersebut.

Keterangan:
Hadis di atas mengandung suatu anjuran supaya kita semua berbuat baik terhadap segala macam binatang yang muhtaram atau yang dimuliakan. Yang dimaksudkan binatang muhtaram ialah binatang yang menurut agama Islam tidak boleh dibunuh.

127. Kesebelas: Dari Abu Hurairah r.a. lagi dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Sesungguhnya saya telah melihat seorang yang bersuka-ria dalam syurga dengan sebab memotong sebuah pohon dari tengah jalanan yang pohon itu membuat kesusahan bagi kaum Muslimin." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan demikian: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan melalui sebuah cabang pohon yang melintang di tengah jalanan, kemudian ia berkata: "Demi Allah, sesungguhnya pohon ini hendak kulenyapkan dari jalanan kaum Muslimin supaya ia tidak membuat kesukaran pada mereka itu." Orang tersebut lalu dimasukkan dalam syurga.
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim pula disebutkan demikian: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan di jalanan. Ia menemukan cabang dari sebuah pohon berduri pada jalanan itu, kemudian cabang berduri itu disingkirkan olehnya. Allah lalu berterima kasih kepada orang tadi dan memberikan pengampunan kepadanya."

128. Keduabelas: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang berwudhu' lalu memperbaguskan wudhu'nya kemudian mendatangi shalat Jum'at, lalu mendengarkan -khutbah serta berdiam diri- tidak bercakap-cakap sedikitpun, maka diampunilah untuk antara Jum'at itu dengan Jum'at yang berikutnya dan ditambah pula dengan tiga hari lagi. Barangsiapa yang memegang -mempermainmainkan- batu kerikil -di waktu ada khutbah- maka ia telah berbuat kesalahan." (Riwayat Muslim)

129. Ketigabelas: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau seorang hamba muslim ataupun mu'min berwudhu', kemudian ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya itu setiap kesalahan yang dilihat olehnya dengan menggunakan kedua matanya bersama dengan air atau bersama dengan tetesan air yang terakhir. Selanjutnya apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya itu semua kesalahan yang diambil -dilakukan- oleh kedua tangannya bersama dengan air atau bersama tetesan air yang terakhir. Kemudian apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua kesalahan yang dijalani oleh kedua kakinya itu bersama dengan air atau bersama dengan tetesan air yang terakhir, sehingga keluarlah orang tersebut dalam keadaan bersih dari semua dosa." (Riwayat Muslim)

130. Keempatbelas: Dari Abu Hurairah r.a.dari Rasulullah s.a.w. bersabda: "Shalat lima waktu, dari Jum'at yang satu ke Jum'at yang berikutnya,dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang berikutnya itu dapat menjadi penghapus dosa-dosa antara jarak keduanya itu, jikalau dosa-dosa besar dijauhi." (Riwayat Muslim)

131. Kelimabelas: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau semua saya tunjukkan pada sesuatu amalan yang dengannya itu Allah akan menghapuskan segala macam kesalahan serta mengangkat pula dengannya tadi sampai beberapa derajat?" Para sahabat menjawab; "Baik, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. bersabda: "Yaitu menyempurnakan wudhu' sekalipun menghadapi kesukaran-kesukaran banyaknya, melangkahkan kaki untuk pergi ke masjid serta menantikan shalat setelah selesai shalat yang satunya. Yang sedemikian itulah yang dinamakan perjuangan." (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Menyempurnakan wudhu' sekalipun menghadapi kesukaran, misalnya di saat yang udaranya dingin sekali, sehingga airnyapun menjadi sangat pula dinginnya. Dalam Hadis di atas dijelaskan bahwa senantiasa berthaharah yakni tetap suci dari hadas besar dan kecil, juga shalat dan segala sesuatu yang dilakukan ditujukan untuk niat beribadah dan berbakti kepada Tuhan, adalah sama pahalanya dengan berjihad fisabilillah.

132. Keenambelas: Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang bershalat dua shalat barad -makna sebenarnya dingin-, maka ia dapat masuk syurga." (Muttafaq 'alaih) Dua shalat barad maknanya ialah shalat Subuh dan Asar.

133. Ketujuhbelas: Dari Abu Musa al-Asy'ari pula, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila seorang hamba itu sakit atau berpergian, maka dicatatlah untuknya pahala ketaatan sebagaimana kalau ia mengerjakannya di waktu ia sedang berada di rumah sendiri dan dalam keadaan sihat." (Riwayat Bukhari)

134. Kedelapanbelas: Dari Jabir r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setiap perbuatan baik itu merupakan sedekah." Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Hudzaifah r.a.

135. Kesembilanbelas: Dari Jabir r.a. pula, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang dapat dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan apa saja yang tercuri daripadanya, itupun sebagai sedekah baginya. Dan tidak pula dikurangi oleh seorang lain, melainkan itupun sebagai sedekah baginya." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan: "Maka tidaklah seorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia ataupun binatang, ataupun burung, kecuali semuanya itu adalah sebagai sedekah baginya sampai hari kiamat."

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain lagi disebutkan: "Tidaklah seorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, tidak pula ia menanam sesuatu tumbuh-tumbuhan, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, ataupun oleh binatang ataupun oleh apa saja, melainkan itu adalah sebagai sedekah baginya."
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan Hadis-hadis semuanya itu dari riwayat Anas r.a.

136. Keduapuluh: Dari Jabir r.a. lagi, katanya: "Bani Salimah -salah satu kabilah kaum Anshar yang terkenal radhiallahu 'anhum- bermaksud hendak berpindah tempat di dekat masjid. Berita itu sampai kepada Rasulullah s.a.w., kemudian beliau s.a.w. bersabda kepada Bani Salimah itu: "Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau semua ingin berpindah ketempat di dekat masjid?" Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah, kita berkehendak sedemikian itu." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Wahai Bani Salimah, tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, akan dicatatlah langkah-langkahmu itu -yakni pahala melangkahkan kaki dari rumah ke masjid itu pasti dicatat sebanyak yang dijalankan. Jadi tidak perlu berpindah ke dekat masjid. Tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, akan dicatatlah langkah-langkahmu itu." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya dengan setiap langkah itu ada derajatnya sendiri." Imam Bukhari meriwayatkan pula dengan pengertian yang semakna dengan di atas dari riwayat Anas r.a.

137. Keduapuluhsatu: Dari Abdulmundzir yaitu Ubay bin Ka'ab r.a. katanya: "Ada seorang yang saya tidak mengetahui ada orang lain yang rumahnya lebih jauh lagi daripada orang itu untuk pergi ke masjid. Orang tadi tidak pernah terluput oleh shalat -jamaah. Kemudian kepadanya itu ditanyakan, atau saya sendiri bertanya kepadanya: Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki apabila malam gelap gulita ataupun di waktu siang yang panasnya amat terik." Orang itu menjawab: "Saya tidak senang sekiranya rumahku itu ada di dekat masjid. Sesungguhnya saya ingin sekali kalau perjalananku ke masjid itu dicatat -sebagai pahala, demikian juga pulangku jikalau saya pulang ketempat keluargaku." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Allah telah mengumpulkan untukmu semua yang kau kehendaki itu -yakni keinginanmu untuk memperoleh pahala banyak itu dikabulkan oleh Allah."

Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya bagimu adalah pahala apa yang telah engkau amalkan -yakni diperhitungkan menurut banyak sedikitnya langkah yang dijalani dari rumah ke masjid itu." Ar-ramdha' ialah bumi yang terkena panas matahari yang amat terik.

138. Keduapuluh dua: Dari Abu Muhammad yaitu Abdullah bin 'Amr bin Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ada empat puluh perkara, setinggi-tingginya -dalam derajatnya- ialah memberikan -manihah- kambing. Tiada seorangpun yang mengerjakan salah satu perkara dari empat puluh perkara itu, dengan mengharapkan pahalanya dan mempercayai apa yang dijadikan -oleh Tuhan- melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam syurga." (Riwayat Bukhari) 
Manihah ialah memberikan kambing betina pada orang lain agar diperah susunya -binatang yang diberikan tadi, lalu dimakan -yakni diminum, kemudian dikembalikan lagi kepada yang memilikinya, apabila sudah habis susu yang ada di dalam teteknya. Manihah itu dapat berupa kambing dan disebut Manihatul 'ami atau Manihatusy syaati dan dapat pula berupa unta, lalu disebut Manihatun naaqati.

139. Keduapuluh tiga: Dari 'Adi bin Hatim r.a., katanya: Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Takutlah pada -siksa- neraka itu, sekalipun dengan memberikan sedekah potongan kurma." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan lagi, dari 'Adi bin Hatim, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorangpun dari engkau semua, melainkan akan diajak berbicara oleh Tuhannya dan antara dia dengan Tuhannya tidak ada seorang penerjemahpun -penyambung kata. Orang itu melihat ke sebelah kanannya, maka tidak ada yang dilihat olehnya kecuali amalan yang telah dilakukannya sebelum itu -dari amalan yang baik- dan juga dia melihat ke sebelah kirinya, maka tidak ada pula yang dilihat olehnya, kecuali amalan yang dilakukan sebelum itu -dari amalan yang jelek. Dia melihat pula antara kedua tangannya, maka tidak ada yang dilihatnya kecuali neraka yang ada di hadapannya. Maka takutlah engkau semua pada -siksa- neraka, sekalipun dengan bersedekah potongan kurma. Kemudian barangsiapa yang tidak menemukan sesuatu untuk disedekahkan, maka bersedekahlah dengan ucapan yang baik saja."

140. Keduapuluh empat: Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu niscaya meridhai pada seorang hamba, jikalau ia makan sesuatu makanan -pagi ataupun sore, kemudian mengucapkan puji-pujian kepada Allah atas makanan yang dimakannya itu, ataupun meminum sesuatu minuman, kemudian mengucapkan puji-pujian kepada Allah atas minuman yang diminumnya itu." (Riwayat Muslim) Al-Aktah, dengan difathahkan hamzahnya, artinya ialah makan siang atau makan malam.

141. Keduapuluh lima: Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Setiap orang Islam itu harus bersedekah." Abu Musa bertanya: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak menemukan sesuatu untuk disedekahkan?" Beliau menjawab: "Kalau tidak ada hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya, kemudian ia dapat memberikan kemanfaatan kepada dirinya sendiri, kemudian bersedekah." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia memberikan pertolongan kepada orang yang menghajatkan bantuan." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak dapat berbuat demikian?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia memerintah dengan kebaikan atau kebaikan." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian." Beliau menjawab: "Hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka yang sedemikian itupun sebagai sedekah yang diberikan olehnya." (Muttafaq 'alaih)
.................................................

Keutamaan Bersahur


Bismillahirrahmanirrahim

1226. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bersahurlah engkau semua, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahannya." (Muttafaq 'alaih)

1227. Dari Zaid bin Tsabit r.a., katanya: "Kita bersahur bersama Rasulullah s.a.w. kemudian kita berdiri untuk melakukan shalat -yakni shalat Subuh-." Kepadanya ditanyakan: "Berapa jarak waktu antara keduanya itu?" Yakni antara selesainya sahur dengan berdirinya untuk shalat Subuh. Ia menjawab: "Kira-kira cukup membaca lima puluh ayat." (Muttafaq 'alaih)

1228. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu mempunyai dua orang juru adzan, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Bilal itu beradzan di waktu masih malam -yakni sebelum menyingsingnya fajar shadik-, maka makanlah dan minumlah engkau semua -untuk bersahur- sehingga Ibnu Ummi Maktum beradzan -sebagai tanda masuknya waktu Subuh-." Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma berkata: "Tidak ada jaraknya antara kedua orang juru adzan itu, melainkan kalau yang ini turun -yakni Bilal- lalu yang ini -yakni Ibnu Ummi Maktum- naik." Maksudnya jarak waktu antara keduanya itu tidak terlalu lama. (Muttafaq 'alaih)

1229. Dari 'Amr bin al-'Ash r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pemisahan -yakni perbedaan- antara puasa kita dengan puasanya kaum ahli kitab -yakni kaum Yahudi dan Nasrani- itu ialah adanya makan sahur." (Riwayat Muslim)

Menyegerakan Berbuka

Bismillahirrahmanirrahim

Keutamaan Menyegerakan Berbuka Dan Apa Yang Dimakan Untuk Berbuka Itu Serta Apa Yang Diucapkan Setelah Selesai Berbuka

1230. Dari Sahl bin Sa'ad r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada henti-hentinya orang-orang itu memperoleh kebaikan, selama mereka itu suka menyegerakan berbuka." (Muttafaq 'alaih)

1231. Dari Abu 'Athiyah, katanya: "Saya dan Masruq masuk ke tempat Aisyah radhiallahu 'anha, laiu Masruq berkata padanya: "Ada dua orang lelaki dari sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. tidak melalaikan kebaikan, yang seorang menyegerakan Maghrib dan berbuka, sedang yang lainnya mengakhirkan Maghrib dan berbuka." Aisyah lalu bertanya: "Siapakah yang menyegerakan Maghrib dan berbuka?" Masruq menjawab: "Yaitu Abdullah -yang dimaksudkan Abdullah bin Mas'ud-." Aisyah radhiallahu 'anha lalu berkata: "Demikian itulah yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w." (Riwayat Muslim)

1232. Dari Abu Hurairah r.a., pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman -dalam hadits qudsi-: "Yang paling saya cintai diantara hamba-hambaKu ialah yang lebih menyegerakan berbukanya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

1233. Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila malam telah menghadap -yakni datang- dari sebelah ini -yakni dari sebelah timur- dan siang telah berlalu dari sebelah ini -yakni sebelah barat-, juga matahari telah terbenam, maka benar-benar sudah waktunyalah seorang yang berpuasa itu berbuka -yakni jangan menunggu lama lagi-. (Muttafaq 'alaih)

1234. Dari Abu Ibrahim yaitu Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu 'anhuma, katanya: "Kita berjalan -yakni berpergian- bersama Rasulullah s.a.w. dan beliau s.a.w. berpuasa. Ketika matahari terbenam, lalu beliau bersabda kepada sebagian kaum -yang mengikuti perjalanan itu-: "Hai Fulan, turunlah lalu masaklah roti itu dengan air untuk kita." Orang itu berkata: "Andaikata sore hari nanti, tentunya lebih baik." Maksudnya: Oleh sebab tampak masih agak siang, maka alangkah baiknya kalau memasaknya itu menantikan agak sore sedikit. Beliau s.a.w. lalu bersabda lagi: "Turunlah lalu masaklah roti dengan air untuk kita." Orang itu berkata lagi: "Sesungguhnya hari ini masih siang bagi Tuan -guna berbuka-" Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Turunlah, lalu masaklah roti dengan air untuk kita." Yang meriwayatkan hadits ini berkata: "Orang yang disuruh tadi lalu turun, kemudian ia memasak roti dengan air untuk orang banyak. Rasulullah s.a.w. lalu minum kemudian bersabda: "Apabila engkau semua telah melihat waktu malam datang dari sebelah sini -yakni sebelah timur-, maka benar-benar sudah waktunyalah seorang yang berpuasa itu berbuka." Beliau bersabda demikian sambil menunjuk dengan tangannya ke arah sebelah timur. (Muttafaq 'alaih) Sabdanya: Ijdah dengan menggunakan Jim lalu dal lalu ha' yang keduanya muhmalah, artinya ialah campurlah roti sawiq dengan air.

1235. Dari Salman bin 'Amr ad-Dhahabi ash-Shahabi r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Jikalau seorang diantara engkau semua berbuka, maka hendaklah berbuka atas kurma, tetapi apabila tidak menemukan kurma, maka hendaklah berbuka atas air, karena sesungguhnya air itu suci." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

1236. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu berbuka sebelum melakukan shalat -Maghrib- atas beberapa buah kurma basah, tetapi apabila tidak ada kurma basah, maka berbuka atas kurma biasa, tetapi apabila tidak ada kurma, maka beliau s.a.w. minum beberapa teguk air." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

Jaga Lisan Ketika Berpuasa

Bismillahirrahmanirrahim.


Perintah Kepada Orang Yang Berpuasa Supaya Menjaga Lisan Dan Anggotanya Dari Perselisihan Dan Saling Bermaki-makian Dan Sebagainya

1237. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila pada hari seorang diantara engkau semua itu berpuasa, maka janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seorang atau dilawan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah -sedang- berpuasa." (Muttafaq 'alaih)

1238. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tidak pula meninggalkan berkelakuan dengan dasar dusta, maka tidak ada keperluannya bagi Allah dalam -perihal- ia meninggalkan makan dan minumnya." Maksudnya: Di waktu berpuasa itu hendaknya meninggalkan hal-hal di atas, agar berpahala puasanya tadi. (Riwayat Bukhari)

Wajibnya Puasa Ramadhan


Bismillahirrahmanirrahim.


Allah Ta'ala berfirman: "Hai sekalian orang yang beriman! Diwajibkanlah puasa atas engkau semua sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang yang sebelum engkau semua itu," sampai kepada firmanNya: "Bulan Ramadhan yang di dalamnya itu diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk untuk semua manusia dan merupakan keterangan-keterangan dari petunjuk dan yang memperbedakan antara kebenaran dan kesesatan. Maka barangsiapa diantara engkau semua ada yang menyaksikan bulan Ramadhan, hendaklah berpuasa dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka berpuasalah menurut hitungan yang tidak dipuasainya itu pada hari-hari yang lain," sampai akhirnya ayat. (al-Baqarah: 183)

1212. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman -dalam hadits qudsi-: "Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai -dari kemaksiatan serta dari neraka-. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang diantara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seorang atau dilawan dengan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah -sedang- berpuasa." Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya bau bacin dari mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Seorang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan dan ia dapat merasakan kesenangannya, yaitu apabila ia berbuka, iapun bergembiralah dan apabila telah bertemu dengan Tuhannya, iapun gembira dengan adanya amalan puasanya." (Muttafaq 'alaih) Dan ini adalah lafaz riwayat Imam Bukhari. Dalam riwayat Imam Bukhari yang lain disebutkan: Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena taat pada perintahKu -Allah-. Puasa adalah untukKu dan Aku akan memberikan balasannya, sedang sesuatu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat gandanya." Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: "Setiap amal perbuatan anak Adam -yakni manusia itu-, yang berupa kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan sepuluh kalinya sehingga tujuh ratus kali lipatnya."Allah Ta'ala berfirman: "Melainkan puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku akan memberikan balasannya. Orang yang berpuasa itu meninggalkan kesyahwatannya, juga makanannya semata-mata karena ketaatannya pada perintahKu. Seorang yang berpuasa itu mempunyai dua macam kegembiraan, sekali kegembiraan di waktu berbukanya dan sekali lagi kegembiraan di waktu menemui Tuhannya. Sesungguhnya bau bacin mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi."

1213. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menafkahkan sepasang binatang -yakni dua ekor kuda-, lembu ataupun unta -dalam kepentingan fisabilillah-, maka ia akan dipanggil dari semua pintu syurga dengan ucapan: "Hai hamba Allah, inilah yang lebih baik." Maka jikalau seorang itu dari golongan ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu Shalat, barangsiapa yang termasuk dalam ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu Jihad, barangsiapa yang termasuk dalam ahli puasa, ia akan dipanggil dari pintu Rayyan -artinya puas atau kenyang minuman-, barangsiapa yang termasuk dalam ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu Shadaqah." Abu Bakar r.a. berkata: "Biabi anta wa ummi ya Rasulullah, tidak ada kerugian sama sekali bagi seorang yang telah dipanggil dari pintu-pintu itu, tetapi apakah ada seorang yang dipanggil dari semua pintu itu?" Beliau s.a.w. menjawab: "Ya, ada dan saya mengharapkan agar Anda termasuk dalam golongan orang yang dipanggil dari semua pintu tadi." (Muttafaq 'alaih)

1214. Dari Sahl bin Sa'ad r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya di dalam syurga itu ada sebuah pintu yang disebut pintu Rayyan -artinya-: Puas dan kenyang minum. Dari pintu ini masuklah semua orang yang berpuasa besok pada hari kiamat. Tidak ada seorang yang selain orang-orang yang berpuasa itu yang dapat masuk dari pintu itu. Dikatakanlah: "Manakah orang-orang yang berpuasa." Mereka itu lalu berdiri, lalu tidak seorangpun yang dapat masuk dari pintu Rayyan tadi selain orang-orang yang berpuasa. Jikalau mereka telah masuk seluruhnya, lalu pintu itupun ditutuplah, jadi tidak seorangpun lagi yang dapat memasukinya." (Muttafaq 'alaih)

1215. Dari Abu Said r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang hambapun yang berpuasa sehari dengan niat fisabilillah -yakni semata-mata menuju kepada ketaatan kepada Allah-, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya -yakni dirinya- karena puasanya tadi, sejauh perjalanan tujuh puluh tahun dari neraka." (Muttafaq 'alaih)

1216. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena didorong oleh keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu." (Muttafaq 'alaih)

1217. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila bulan Ramadhan telah datang, maka dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan diikatlah semua syaitan." (Muttafaq 'alaih)

1218. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Berpuasalah karena melihat -rukyah- bulan dan berbukalah karena melihat bulan. Maka apabila terhalang oleh awan atasmu semua, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban sebanyak tiga puluh hari." (Muttafaq 'alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: "Maka jikalau tertutup oleh awan atasmu semua, maka berpuasalah sebanyak tiga puluh hari."




Sentiasa Berbuat Baik

Bismillahirrahmanirrahim.

Dari Jabir r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Dibangkitkan setiap hamba itu -dari kuburnya, menurut -sesuai keadaan- apa yang ia mati atasnya." (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Hadis ini menyerukan setiap manusia muslim lagi mu'min agar sentiasa berbuat kebaikan kepada siapapun, mengerjakan apa-apa yang diredhai Allah, menetapi sunnah-sunnahnya Rasulullah s.a.w. dalam segala waktu, tempat dan keadaan. Juga menyerukan supaya terus menerus memiliki keikhlasan hati dalam mengamalkan segala hal semata-mata untuk Allah Ta'ala jua, baik dalam ucapan ataupun perbuatan. Kepentingannya ialah agar di saat kita ditemui oleh ajal, maka kematian kitapun menetapi keadaan sebagaimana yang tersebut di atas itu, sehingga pada hari kita diba'ats atau dibangunkan dari kubur nanti, keadaan kitapun sebagaimana halnya apa yang kita tetapi sewaktu kita berada di dunia ini. Semogalah kita memperoleh husnul-khatimah atau penghabisan yang bagus dan terpuji.

Aamiinn... InshaaAllah...


**pautan:
Istiqamah Ikut Sunnah

Doa Masuk Pasar

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini hari Sabtu. Tentu semua kita tak lupa untuk banyak2 zikir 'La ila ha illallah', Zikir susunan Imam Ghazali rm untuk hari Sabtu ialah "La ila ha illallah'.

Esok dah Ahad  Jadi insyaAllah sebagaimana rutin hari minggu, biasanya saya akan ke pasar bersama en suami, sambil2 singgah breakfast , pekena roti canai cheese dengan nescafe panas. Alahai sangat sedap! Alhamdulillah.
.......................  
(Dari Kitab Doa dan Zikir Hisnul Muslim):

Sebelum melangkah masuk ke pasar, sebaiknya kita berdoa dengan doa ini:


لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Laa 'ilaaha 'illallaahu wahdahu laa shareeka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, yuhyee wa yumeetu, wa Huwa hayyun laa yamootu, biyadihil-khairu, wa Huwa 'alaa kulli shai'in Qadeer.

Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Esa tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan bagiNya kepujian, Dia yang Menghidupkan dan Mematikan, Dia Tetap Hidup dan tidak akan mati, di tanganNya kebaikan dan Dia berkuasa keatas setiap sesuatu.

Melangkah masuk ke pasar dengan kaki kiri.
.........................
Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW sabdanya:
"Yang paling dicintai oleh Allah di antara segala sesuatu yang ada dalam negeri-negeri itu ialah masjid-masjidnya, sedang yang paling dibenci di antara segala sesuatu yang ada dalam negeri itu ialah pasar-pasarnya."    (Riwayat Muslim)

Dari Salman al-Farisi ra., dari salah satu ucapannya, ia berkata: "Janganlah engkau sekali-kali menjadi orang yang paling pertama kali masuk pasar, jikalau engkau dapat, juga janganlah menjadi orang yang paling akhir keluar daripadanya, sebab sesungguhnya pasar itu adalah tempat pergulatan syaitan - maksudnya tempat keburukan seperti menipu, mengicuh, sumpah palsu dan lain-lain - dan di pasar itu pulalah syaitan itu menegakkan benderanya."
Diriwayatkan oleh Iman Muslim sedemikian.
Imam al-Barqani meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Salman, katanya: Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah engkau menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan jangan pula menjadi orang yang akhir sekali keluar dari pasar itu. Di pasar itulah syaitan bertelur dan menetaskan anaknya," - ini adalah sebagai kiasan bahawa pasar itulah tempat berbagai kemaksiatan dilakukan.

Dari at-Thufail bin Ubay bin Ka'ab bahwasanya ia mendatangi Abdullah bin Umar, lalu ia pergi bersamanya ke pasar, at-Thufail berkata:"Jikalau kita pergi ke pasar, maka tidaklah Abdullah itu melalui seorang penjual lobak ataupun penjual dagangan apapun juga, tidak pula melalui seseorang miskin, kecuali ia pasti memberi salam padanya." 
At-Thufail berkata: Pada suatu hari saya datang lagi di tempat Abdullah bin Umar, lalu ia meminta supaya saya mengikutinya ke pasar. Saya berkata: "Apa yang akan engkau kerjakan di pasar, sedangkan engkau tidak akan berhenti untuk berjualan dan tidak pula menanyakan harga sesuatu barang - untuk membelinya, tidak pula berpencarian di pasar itu, juga tidak perlu duduk-duduk dalam tempat-tempat duduk di pasar." Saya berkata pula: "Duduk sajalah di sini dengan kami dan kita dapat bercakap-cakap."
Abdullah lalu berkata: "Hai Abu Bathn" - artinya Pak Perut - dan memang at-Thufail mempunyai perut besar: "Hanyasanya kita pergi ke pasar itu adalah untuk meratakan salam dan kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita bertemu dengannya."
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa' dengan isnad shahih.

Wallahu a'lam.


Sifat Malu


Bismillahirrahmanirrahim.

679. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Malu itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemungkaran dan kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu shalat karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah tercela dan tidak ada kebaikannya sama sekali. Dalam hal ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dari Abu Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya diantara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki." Adapun hadits di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti pada seorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadi maksudnya ialah: "Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemungkaran dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat." Ada pula sebagian alim ulama yang berpendapat bahwa maksud hadits di atas itu adalah untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia, sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal itu termasuk sesuatu yang mubah (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."

680. Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh akibatnya." Atau beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik akibatnya." Yang dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan menurut pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan tidak dibenarkan oleh agama.

681. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keimanan itu ada tujuh puluh lebih -tiga sampai sembilan- atau keimanan itu cabangnya ada enam puluh lebih -tiga sampai sembilan-. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya -semacam batu, duri, ranting, paku, kayu, tumpahan minyak oli, lumpur, abu kotoran dan lain-lain sebagainya- dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu." (Muttafaq 'alaih)

682. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu lebih sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya -yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum pernah dikenalnya-. Ia -perawan tersebut- amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak di wajahnya." (Muttafaq 'alaih) Para alim ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budi pekerti yang menyebabkan seorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak mau lengah untuk menunaikan haknya seorang yang mempunyai hak." Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah diantara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu." Wallahu a'lam.

Sunnahnya Berbicara Yang Baik dan Menunjukkan Wajah Yang Manis Ketika Bertemu


Bismillahirrahmanirrahim

Allah Ta'ala berfirman: "Dan tundukkanlah sayapmu -yakni bersikap merendahkan dirilah- terhadap kaum mu'minin." (al-Hijr: 88)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Andaikata engkau itu berakhlak jelek serta keras hati, sesungguhnya orang-orang itu sama lari dari sekelilingmu." (Ali-Imran: 159)

691. Dari 'Adiy bin Hatim r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Takutlah engkau semua kepada neraka, sekalipun dengan jalan bersedekah dengan potongan kurma, maka barangsiapa yang tidak dapat menemukan itu, maka hendaklah bersedekah dengan mengucapkan perkataan yang baik." (Muttafaq 'alaih)

692. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Dan mengucapkan perkataan yang baik itu adalah merupakan sedekah." (Muttafaq 'alaih) Dan hadits ini adalah sebagian dari hadits yang lampau dengan kelengkapannya yang panjang -lihat hadits no.122-.

693. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepada saya: "Janganlah engkau menghinakan sesuatupun dari amal kebaikan -yakni sekalipun tampaknya kecil, janganlah tidak dilakukan-, meskipun andaikata engkau bertemu saudaramu dengan menunjukkan wajah yang manis," -atau berseri-seri tanda bersuka cita ketika bertemu itu-. (Riwayat Muslim)

Bacaan Selawat ke atas Nabi SAW

Bismillahirrahmanirrahim.


Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya menyampaikan shalawatnya kepada Nabi -yakni Nabi Muhammad-. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam dengan sebenar-benarnya salam kepada Nabi itu." (al-Ahzab: 56) 

1394. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w, bersabda: "Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku sekali shalawat, maka Allah akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali dengan sebab sekali shalawat tadi." (Riwayat Muslim) 

1395. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seutama-utama manusia bagiku pada hari kiamat ialah orang yang terbanyak bacaan shalawatnya padaku," yakni lebih diutamakan oleh beliau s.a.w. untuk dapat memperoleh syafaatnya dan dapat kedudukan yang terdekat dengannya. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

1396. Dari Aus bin Aus r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya diantara hari-harimu yang paling utama sekali ialah hari Jum'at, maka perbanyakkanlah membaca shalawat padaku pada hari itu, sebab sesungguhnya bacaan shalawatmu itu ditunjukkan kepadaku." Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah shalawat kita semua itu dapat ditunjukkan kepada Tuan, sedangkan Tuan sudah hancur tubuhnya -telah wafat dan dikubur-?" Dalam sebagian riwayat disebutkan: dengan kata-kata: "Sedangkan Tuan telah rusak tubuhnya?" Nabi s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan pada tanah untuk makan tubuhnya para Nabi." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. 

1397. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Terkena debulah hidung seseorang -yakni amat hina sekali seseorang- yang di waktu nama saya disebutkan di sisinya, tetapi ia tidak suka membaca shalawat padaku." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. 

1398. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua membuat kuburku itu sebagai hari raya -yakni untuk tempat berkumpul-kumpul guna bersenang-senang-. Bacalah shalawat padaku karena sesungguhnya bacaan shalawatmu semua itu dapat sampai padaku, di mana saja engkau semua berada." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. 

1399. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorangpun yang memberi salam padaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku, sehingga saya dapat rnenjawab salam orang itu." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. 

1400. Dari Ali r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang kikir ialah orang yang apabila namaku disebut disisinya ia tidak suka membaca shalawat padaku." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih. 

1401. Dari Fadhalah bin 'Ubaid r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. pernah mendengar seorang yang berdoa dalam shalatnya, tetapi ia tidak mengucapkan puji-pujian kepada Allah Ta'ala dan tidak pula membaca shalawat pada Nabi s.a.w., lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tergesa-gesa sekali orang ini," kemudian orang itu dipanggilnya. Nabi s.a.w. lalu bersabda pada orang itu atau pada orang lain juga: "Jikalau seorang diantara engkau semua hendak berdoa, maka hendaklah memulai dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhannya yang Maha Suci serta puji-pujian padaNya, selanjutnya membaca shalawat kepada Nabi s.a.w., seterusnya bolehlah ia berdoa dengan apa yang dikehendaki olehnya." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih. 

1402. Dari Abu Muhammad, yaitu Ka'ab bin 'Ujrah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. keluar pada kita, lalu kita berkata: "Ya Rasulullah, kita semua telah mengerti bagaimana cara bersalam kepada Tuan, tetapi bagaimanakah cara kita kalau membaca shalawat kepada Tuan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ucapkanlah: "Alhhumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shallaita 'ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid. Allahumma barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid." Artinya: Ya Allah, berikanlah tambahan kerahmatan pada Muhammad dan pada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan tambahan kerahmatan pada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Termulia. Ya Allah, berikanlah tambahan keberkahan pada Muhammad dan pada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah menambahkan keberkahan pada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Termulia. (Muttafaq 'alaih) 

1403. Dari Abu Mas'ud al-Badri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. datang kepada kita dan kita semua sedang dalam majelisnya Sa'ad bin 'Ubadah, lalu Basyir bin Sa'ad berkata kepada beliau s.a.w.: "Allah menyuruh kita supaya kita membaca shalawat kepada Tuan, ya Rasulullah, maka bagaimanakah cara kita mengucapkan shalawat kepada Tuan itu?" Rasulullah s.a.w. lalu diam, sehingga kita semua mengharapkan, alangkah baiknya kalau tadi-tadi Basyir tidak bertanya kepada beliau tentang hal itu. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ucapkanlah: Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Kama shallaita 'ala Ibrahim. Wabarik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Kamabarakta 'ala ali Ibrahim. Innaka hamidum majid -untuk artinya silahkan periksa dalam hadits no.1402 di atas-. Adapun tentang salam, maka sebagaimana yang engkau semua sudah diajari." (Riwayat Muslim) 

1404. Dari Abu Humaid as-Sa'idi r.a., katanya: "Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah cara kita mengucapkan shalawat kepada Tuan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ucapkanlah: Allahumma shalli 'ala Muhammad, wa 'ala azwajihi wa dzurriyyatihi. Kama shallaita 'ala Ibrahim. Wa barik 'ala Muhammad, wa 'ala azwajihi wa dzurriyyatihi. Kama barakta 'ala Ibrahim. Innaka hamidum majid." -artinya:- Ya Allah, berikanlah tambahan kerahmatan pada Muhammad dan pada istri-istri dan keturunan-keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan tambahan kerahmatan pada Ibrahim. Dan berikanlah tambahan keberkahan pada Muhammad dan pada istri-istri dan keturunan-keturunannyam, sebagaimana Engkau telah menambahkan keberkahan pada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Termulia. (Muttafaq 'alaih)


~ Kitab Riyadhus Shalihin
(Taman Orang-orang Soleh)
Menghuraikan Hadis-hadis Pilihan
IMAM NAWAWI

Blog Archive

KURSUS HAJI 2023

Minggu 1

Pergi Haji

Minggu ke 9

Minggu ke 12

Panggilan ke Tanah Suci bukan soal cepat atau lambat, tetapi rahsia ALLAH yang hadir tepat pada waktunya... إن شاء الله

Umrah♡